Namanya Husni. Nama panjangnya Muhammad Husni Akbar. Kalau nama panjangnya sesuai akta lahir, ya saya tidak tahu. Wong saya bukan saudaranya, meskipun selalu dipanggil “Kak… kak Nila…”

kopdar cianjur
Kopi darat kali pertama kami (saya dan Kurt) bersama kawan-kawan Gresik Sumpek di Restauran Cianjur Gresik (Husni yang motret).

Saya kenal Husni dari komunitas sosial media, Gresik Sumpek. Awalnya ya lewat Facebook saja.

Hingga kemudian ketemu muka pada bulan Mei 2016.

Kurt, suami saya, ingat betul si Husni. “Oooohhh, si Tupai itu!” kata suami saya.

IMG_3261
Tupai si Husni (Husni yang motret).
IMG_3265
Husni di samping Mbak Fitriah (kiri nomer dua). Entah yang motret siapa…

Bukan, Husni sama sekali tidak ada mirip-miripnya dengan Tupai! Kasihan tupainya kalau dibilang mirip Husni.

Ini gara-garanya, saat bertemu dengan kawan-kawan Gresik Sumpek pada 19 Mei 2016 itu, Husni datang sambil membawa seekor tupai. Sejak itu, yang direkam oleh Kurt ya Tupainya saja.


Sempat Akan Datang

Bulan Mei 2017, Husni berkirim kabar lewat WA bahwa dia akan terbang ke Australia. Saya kemudian memandunya menyiapkan segala macam berkas untuk pengurusan Visa Turis.

Fotokopi KTP, KK, Akte Kelahiran, fotokopi Paspor yang sudah dilegalisir, fotokopi rekening tabungan 3 bulan terakhir, surat keterangan kerja asli dari pihak perusahaan, scan dan print-out kartu pekerja, surat keterangan cuti, surat dari saya sebagai penjamin akomodasi dia selama di Australia dan terakhir, formulir pengajuan visa turis yang harus ditulis tangan.

Bahkan, cara pengisian formulirnya pun saya bantu. Saya yang tulis tangan, lalu di scan dan saya kirim email ke Husni. Karena saya tahu, kemampuan Bahasa Inggrisnya yang hancur banget itu, jadi ya saya bantu sajalah. Daripada visanya ditolak!

Kami pun intens berkirim pesan dari Mei 2017 sampai kemudian visa turisnya disetujui pada bulan Oktober 2017. Husni mendapatkan visa turis yang berlaku hingga 1 tahun. Mantab!

Pada akhir 2017, sebenarnya si Husni sudah menyiapkan segala sesuatu untuk datang ke Australia, tapi malangnya, ada musibah yang harus segera ditangani. Tiket dan segala pesanan akomodasi, dibatalkan.

Dan saya pun masih menunggu.


Akhirnya Nongol Juga…

27 September 2018, Husni mendarat di Perth. Pesawatnya mendarat pukul 11an pagi. Dan karena saya kerja shift pagi, dari awal Husni sudah saya suruh untuk memesan tiket bus secara online agar bisa ke Busselton sendirian tanpa saya perlu menjemput dia ke Perth.

Tiket Bus dari Bandara Perth menuju Busselton bisa dipesan online lewat http://www.southwestcoachlines.com.au/

Dari situ, tinggal memilih tanggal, lokasi penjemputan dan lokasi yang dituju, kemudian memilih jam dan terakhir membayarnya online.

Bus yang ditumpangi Husni, berangkat pukul 2 siang hari.

Lokasi penjemputan Bus tidak disekitar area terminal T1 (terminal internasional) melainkan harus berjalan kaki sekitar 10 menitan ke area terminal T2 (terminal domestik).

Husni sempat was-was salah lokasi menunggu, karena Bus yang ditunggu tak kunjung tiba.

Beberapa orang ditanyainya, memastikan dia tidak ditinggal oleh si Bus. Dan ternyata, Bus yang ditunggu memang telat 10 menit!

Oh iya, sempat ada kejadian menegangkan di dalam area bandara karena Husni sempat dicegat oleh petugas Custom Perth hingga 3 kali!

Wajahnya yang memang tidak cerah dan sedikit mencurigakan, ditambah lagi dengan bahasa inggris level ajur, Husni kemungkinan besar dicurigai sebagai pencari kerja ilegal yang sering menyamar dengan visa turis tapi kemudian bekerja secara ilegal di Australia.

Tapi karena ada tiket pulang ke Indonesia dan isi ransel yang berisi kamera dan drone, jelas menandakan bahwa Husni bukan pencari kerja. Dia hanyalah pencari sensasi belaka.

Lanjut lagi, berbekal kartu SIM CARD merek Optus dengan internet 5 giga seharga AU$10 yang dibelinya di Bandara Perth, Husni berkirim pesan lewat WhatsApp pada saya. Meng-update segala sesuatu yang dilihatnya saat di Bandara Perth dan juga saat perjalanan menuju Busselton.

Wiiihhhh, sapine lemu-lemu Kakkkk..”

Heluk, akeh jaran pisan nang kene Kaaakk..”


Petualangan Dimulai

Pukul 5.20 sore, HP saya berdering-dering.

Saya lagi menyetir.

Saya acuhkan saja karena nama si penelepon tercetak jelas: “HUSNI”.

HP masih berdering saat saya membelok ke arah penumpang bis yang baru saja turun. Saya menuju ke area parkiran yang berada dibalik punggung para penumpang.

Jendela mobil saya buka dan saya berteriak kencang, “Husniiiiii…”. Sampai ada beberapa bule menoleh ke arah saya.

Saat menjemput Husni, saya baru pulang dari kerja dan bersiap mengantar anak sulung saya latihan Karate. Di jam yang sama pula, saya menjemput anak terakhir saya dari Day Care. Hari itu saya sibuk sekali.

Husni_nila aldi
Saya dengan latar belakang Aldi Supermarket, tempat saya kerja (Baju khusus dari MAFINDO, Ojok HOAX REK!).

Husni langsung saya ajak ke Aldi Supermarket, tempat saya kerja sehari-harinya. Karena keesokan harinya saya harus kerja pagi dan Husni akan saya tinggal sendirian selama 8 jam, maka segala pernik makanan cepat saji harus saya persiapkan. Senjata saya gampang saja: mie instan, beras dan telur.

Menginjak Ular Berbisa

Keesokan harinya (tanggal 28/09/18), saya berangkat kerja pagi sekitar pukul 5.30. Sedangkan Kurt, suami saya, dan anak-anak juga bersiap berangkat ke Perth sekitar pukul 6 pagi.

Praktis, Husni jadi tamu sebatang kara.

Kak, aku kok ditinggal dewean iki…” rengeknya lewat pesan di WhatsApp. Saya cuek saja. Lah wong lagi kerja ini!

Ditinggal selama 8 jam, tentu saja Husni sibuk kesana kemari demi membunuhi waktu. Kebetulan saya sekeluarga menyewa properti di lahan seluas 10 hektar. Jarak rumah kami ke gang depan rumah, menuju jalanan beraspal, sekitar 500an meter. Dan jarak rumah ke pagar depan sekitar seratusan meter.

101018
Jalanan gang rumah saya. Ini matahari terbit yang saya potret tanggal 10 Oktober 2018 jam 5.40 pagi (Foto by Nila N.H. Rogers 2018).

Husni mulai pasang aksi. Memotret sana sini dari halaman belakang rumah yang bersebelahan langsung dengan Bandara Busselton, hingga ke halaman depan yang ada danau kecilnya.

danau
Danau kecil depan rumah, dimana si Husni tak sengaja menginjak ular berbisa (Foto by Nila N. H. Rogers 2016).

Sedari awal sudah saya wanti-wanti bahwa bulan September, Australia sudah memasuki musim semi dimana para hewan melata mulai menampakkan diri.

“Kalau mau ke halaman, harus pakai sepatu boots tinggi. Itu ada rak sepatu khusus boots di samping pintu. Silihen siji. Ben sikilmu aman.”

“Siap kak.”

Saat sedang sibuk memotret beragam tanaman di dekat danau kecil di depan rumah, Husni melihat serombongan bebek terbang rendah. Anehnya, ada satu bebek yang cara terbangnya seperti terjun bebas. Husni sempat memotret si bebek malang itu, yang kemudian jatuh ke tanah.

IMG_1545
Pink Galah liar yang banyak sekali disekitaran rumah kami (Foto by Nila N. H. Rogers 2018).
IMG_7960
Pink Galah yang pengen dibawa pulang si Husni (Foto by Nila N. H. Rogers 2018).
IMG_6071
Bagian belakang rumah kami dengan hiasan trampolin yang (semoga) tidak dinaikin Husni (Foto by Nila N. H. Rogers 2016).

“Bebeknya berdarah Kak. Mungkin diserang burung. Belum mati beneran sih. Masih sekarat. Piye iki? Apa perlu tak bawa masuk? Tapi nanti dimarahi Pak Kurt?” tulisnya dipesan WhatsApp yang tentu saya cuekin. Lah wong lagi kerja!

Tak lama..

“Kak, aku nginjek ularrrrr…. Kayaknya si ular mau mendatangi si bebek. Eh ga sengaja tak injak! Trus tak tinggal mlayuuu..!

Si Husni ini masih dilindungi Tuhan. Ular yang diinjak itu berwarna coklat dan sepertinya brown snake yang sangat berbisa dan racunnya bisa membunuh manusia dalam waktu empat jam!

Bayangkan saja kalau menginjaknya dengan sandal. Sudah pasti ikutan sekarat seperti si bebek juga si Husni itu. Duh….

Terkatung Di Jalanan

Bebas dari jeratan si ular coklat, Husni kemudian mencoba berpetualang dengan gaya lain. Kali ini, skuter anak sulung saya diliriknya.

Husni Scooter
Skuter elektrik Andrea yang akhirnya menyerah dinaikin Husni (Foto by Husni 2018).

Dan, ngeeeeeenggggggg itu skuter nekat ditumpangi hingga ke jalanan beraspal sekitar 1,5 kilometer dari rumah saya.

Dan tiba-tiba, baterai skuter itu habis. Entah kenapa. Mungkin si skuter lagi ngambek berat.

Lah wong biasanya Andrea (anak sulung kami) yang bobotnya 20 kiloan sebagai pengguna utama, eh kok ini tiba-tiba dipakai raksasa gelap berbobot 80 kiloan. Itu belum termasuk berat dosanya loh!

Karena sudah jauh dari rumah, Husni mencoba beberapa kali menumpang pada mobil yang lewat. Jempol tangannya diacungkan, memberi sinyal “minta ditolong” alias “nunut dong“.

Tapi tak satupun mobil rela menolong dia.

Haduh Husssss, lah wong awakmu potongan e ireng ngono. Trus nyurung skuter pisan! Jelas awakmu dikiro mari nyolong skuter trus njaluk nunutan Husss…. Yo pantes ae nek gak onok sing gelem mandek….”

Sekilas, si Husni memang mirip betul dengan penduduk asli benua Australia, suku Aborigin.

DCIM100GOPROGOPR5215.
Sempat selfi dengan sapi.

Akhirnya dengan terengah-engah. Husni berhasil menuntun skuter ngambek itu hingga pulang ke rumah saya. Dan jatuh tertidur kelelahan di sofa.

Belakangan, saya baru sadar kalau si Husni ini, mau capek atau tidak, gampang banget tidurnya! Pelor! Nempel Molor.

Digoda Setan

Sepulang dari kerja, saya langsung bersiap membawa Husni menuju Perth untuk menjemput anak-anak saya. Saya menginap semalam di rumah mertua. Sedangkan Husni, kami titipkan ke rumah kawan baik kurt, Pak Walter, yang berlokasi di Fremantle.

Kami memulai perjalanan dari Busselton menuju Perth sekitar pukul 4 sore. Perjalanan sekitar 250km itu sudah biasa saya tempuh dalam waktu 2,5 jam saja.

IMG_6444
Salah satu sudut Fremantle yang dilalui Husni. Cuman dia lewatnya pas malam hari, jadi bangunan-bangunan bersejarah di sana sini tidak begitu terlihat (Foto: by Nila N. H. Rogers)

Husni duduk manis di samping saya. Dan saya suruh jadi navigator karena saya akan bertemu dengan suami dan anak-anak di Fremantle Up Market, yang jalurnya saya agak lupa.

Sepanjang perjalanan, kami tentu saja banyak mengobrol tentang Australia. Husni sempat berseru, “Ehhhh, onok untoooooo..”

Iya, di Australia memang banyak unta liar. Yang dipelihara juga ada. sekitar 20 ribu Unta mulai diimpor ke Australia pada tahun 1840. Untuk membantu petani dan penambang sebagai pembawa beban. Hampir 60% unta-unta tersebut berada di Australia Selatan yang memang terkenal gersang.

“Tapi kalau unta yang kamu lihat itu ya dipelihara Hus. Iku loh kebon e uwong rek! Duduk gurun,” jelas saya pada Husni yang masih saja berusaha mencari-cari unta-unta lainnya.

Sekitar pukul 6.30 malam, kami tiba di Fremantle Up Market. Husni sempat saya hutangi $5 untuk membayar tiket parkir.

“Kartu ATM-ku ketinggalan nang Busselton, Hus! Nyilih duitmu sik yoh!”

Huik, parkir e larang yo Kak!”

Iya, parkir di Fremantle dan Perth memang terkenal mahalnya. Di Melbourne dan beberapa kota besar lainnya juga mahal. Tapi ndak ada yang demo tuh (engggg).

Sekali memasukkan koin untuk parkir sekitar $3, mobil saya hanya bisa bertahan 1 jam-an saja. Nanti terlihat jelas kapan waktu parkir akan berakhir. Karcis parkir harus dipampang jelas di kaca depan mobil. Kalau kamu masukkan dompet, ya wassalam!

Pernah, Kurt lupa memperpanjang tambahan waktu parkirnya. Denda $75 pun menempel di kaca mobil kami. Padahal, Kurt hanya terlambat 10 menit saja dari batas parkir yang sudah tertera dikarcis.

Karena ATM saya tertinggal di Busselton dan saya butuh uang untuk beli makan malam, Husni pun saya ajak mengambil uang secara cardless (tarik tunai tanpa kartu) di bank penerbit ATM saya, Commonwealth Bank.

Wah sangar isok ngono yo Kak…”

Walah ATM nang Ostrali loh biasa wae nempel tembok yo Kak. Gak koyok nang Indonesia sing di kek’i AC sampek papat!”

Dan, makan malam pun tiba.

Kami serombongan terdiri dari: anak-anak saya, Kurt, Pak Walter dan Junko (istrinya), Jimmy (kawannya Kurt) dan Alex (anak pertama Kurt yang tinggal di Perth bersama istrinya).

Dari situ Husni bisa melihat bagaimana adat orang Australia atau orang Barat pada umumnya saat sedang berkumpul dengan keluarga dan kawan dekat. Hampir tidak ada yang: PEGANG HP.

Semuanya sibuk berbincang. Berkomunikasi langsung. Tertawa bersama. Makan bersama. Bahkan ada yang bertengkar bersama-sama juga. Ramai pokoknya. Dan langsung! Mata mereka menatap satu sama lain. Bukan menatapi layar HP.

Hus, nek HPmu gak mbok dekek, tak keprukno ndas mu loh!” sergah Kurt dengan bahasa Inggris tentu saja.

Husni menurut.

Usai makan malam, saya berpisah dengan rombongan karena harus membawa anak-anak bertemu mertua.

Kurt dan Alex, semobil menuju rumah Alex.

Husni dan Jimmy, dibawa oleh Pak Walter dan Junko, menginap dirumah mereka.

Haduuuh Kakkkk, aku gak isok turu! Omah e akeh setan e! Aku loh digudoi terus. Koyok Lucid Dream, ngimpi tapi koyok temenan. Pokok e wujud e macem-macem tapi bentuk e manusia kabeh. Onok sing koyok anak-anak e sampean. Onok sing koyok sampean tapi kok merengut ae. Aku sempet dilungguhi Kakkkk. Koyok tindihen sampek ga isok ambekan. Padahal wes tak wacakno ayat kursi, Qulhu, sholawat… Eh, setan e loh sik nang kono ae….”

Terus ilang e yok opo Hus?

Tak pisuhi Kak! Jancok, ngimpi taek tha iki!!! Trus blesss, setan e ilang kabeh hahahahaha

Saya mengernyitkan dahi mendengar ceritanya.

Eh tidak hanya Husni. Kurt, Jimmy juga dapat mimpi buruk yang aneh juga. Iya, Kurt memang ikutan menginap di rumah Pak Walter. Biar ramai.


Mobil Goyang Enak

Tanggal 28 September, pagi pukul 10. Saya menjemput Husni di rumah Pak Walter dan membawanya ke rumah mertua yang dekat sekali dengan Sungai Canning yang besar dan jernih itu. Husni sampai terperangah melihat keindahan pemandangan di belakang rumah mertua saya.

Kebetulan, mertua saya adalah seniman lukis. Memasuki rumahnya seperti memasuki galeri seni. Husni menikmati keindahan warna warni abstrak disana.

Art Room
Dari mulai bed cover, bantal, lukisan dinding sampai tudung lampu, ibu mertua saya semua yang bikin (Foto by Nila N.H. Rogers).

 

Pukul 12an, saya bertolak kembali ke Busselton. Diperjalanan pulang, saya mampir ke stasiun pengisian BBM dan sekaligus makan siang.

Panganan nang kene loh anyep kabeh yo Kak,” protesnya saat makan burger ayam tanpa saos sambel.

Husni_saos tomat
Husni awalnya tidak paham cara membuka saos tomat itu. Sampai muncrat kena bajunya (Foto by Nila N.H. Rogers).

Iya, di Australia makanan cepat sajinya tidak ada nasi, saos tomat atau sambal. Kalau mau saos tomat, ya beli. Paling murah 30 sen (tiga ribu rupiah).

Saos sambal? Wah tidak ada!

Kecuali kalau beli gorengan di lapaknya orang Asia (Chinese food, Thai food dsb), baru nanti dikasih saos sambal. Tapi ya gitu, tidak se-pedas sambal di Indonesia.

Usai makan, kami meneruskan perjalanan ke Busselton. Tapi sebelum sampai kesana, mobil saya arahkan ke Bunbury.

Cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan dan angin kencang. Padahal saya ingin memamerkan indahnya pantai di sepanjang ocean drive Bunbury. Tapi toh perjalanan saya teruskan juga.

Di sepanjang garis pantai, ada beberapa lokasi parkir mobil. Saya berhenti di samping mobil warna merah yang sedang parkir di sana.

Loh eh, mobil goyang Kak! Delok’en tha… onok menungso ne tumpuk-tumpuk’an nang mburi!” katanya sambil tertawa terkekeh.

Duh, untung kok penjelasannya dengan Bahasa Suroboyoan, jadinya Andrea tidak paham dengan pembicaraan kami.

Mobil tidak jadi saya parkir di situ. Saya kemudian melaju ke arah parkiran lainnya. Tidak ingin mengganggu yang sedang asyik bergoyang.


Drone Susah Terbang

Husni datang ke Ausralia sambil menenteng kamera dan juga Drone. Dengan mimpi bisa mengabadikan liburannya dari atas.

Mimpinya terwujud beneran sih. Sayangnya tidak semua tempat bisa diliput dari atas.

Misalnya saja di rumah saya sendiri. Kebetulan rumah saya bersebelahan langsung dengan Bandara Busselton. Drone Husni baru melayang 20 meteran, tiba-tiba layar GPS berwarna merah dan ada tulisan “DILARANG TERBANG”.

Ya wajar saja kalau dilarang terbang. Nanti sinyal si Drone bisa mengganggu sinyal bandara dong!

Lagipula, Kurt tidak sreg kalau properti yang kami tempati ini disiarkan di media sosial. Dan rata-rata orang Australia memang protektif sekali dengan privasi mereka.

Kali kedua gagal terbang, terjadi saat Husni saya bawa ke Busselton Marina dimana ada banyak rumah orang kaya yang masing-masing rumah punya pelabuhan di belakang rumahnya.

Husni Drone The Deck
Husni dan Andrea (anak pertama kami), siap-siap menerbangkan Drone di Busselton Marina (sebelum akhirnya diturunkan karena diprotes warga).

Husni terbelalak senang. Karena memang keren. Tanpa menunggu lama, Drone pun melayang. Eh, tidak sampai dua menit. Ada lelaki kulit putih berjalan tergesa menuju Husni. Dari gerak tangannya yang dikibas-kibaskan, saya tahu bahwa si Drone tidak boleh diterbangkan.

Husni yang memang kemampuan bahasa Inggrisnya minus sekali, cuman bisa “iyes iyes” saja sambil cepat-cepat menurunkan si Drone.

“Orang-orang disini tidak senang kalau properti mereka diabadikan oleh orang lain yang tidak mereka kenal,” jelas orang itu pada saya.

Saya menghela napas. Untungnya Husni sudah sempat mengabadikan Busselton Marina meskipun sekejab.

Marina
Ayah saya dengan latar belakang Busselton Marina (foto by Nila N.H. Rogers 2016).
Marina2
Ayah saya dan deretan kapal pribadi di Busselton Marina (Foto by Nila N.H.Rogers 2016).

Kamipun berpindah lokasi, menjauh dari manusia. Tujuan paling gampang ya : Pantai!

Husni akhirnya bisa menerbangkan si Drone dengan tenang di Busselton Foreshore, di Dunsborough Foreshore dan di Pantai Yallingup.

IMG_9732
Busselton Jetty dengan keretanya (Foto by Nila N. H. Rogers 2016).
IMG_9576
Dunsborough Foreshore (Foto by Nila N. H. Rogers 2016).
IMG_4960
Busselton Jetty saat senja (Foto by Nila N. H. Rogers 2016).
IMG_9530
Ibu saya di Dunsborough Foreshore (Foto by Nila N. H. Rogers 2016).
IMG_4969
Pantai Yallingup (Foto by Nila N. H. Rogers 2016).
IMG_4927
Busselton Jetty (Foto by Nila N. H. Rogers 2016).

Sampai Jumpa Lagi, Penidur!

Sosok Husni bagi saya adalah seorang pemuda milenial kekinian yang kreatif. Meskipun sudah punya pekerjaan tetap di Petrokimia Gresik, Husni ternyata mumpuni dalam mengembangkan bisnis rumahan. Sebut saja : ternak kambing, ternak walet, ternak ayam dan ternak video (Youtuber).

Namun ada satu hal yang baru saya ketahui:

Hus… Hus, delok’en iku loh kembange apik-apik… Hus???”

Husni Donnybrook1
Husni bersiap memotret deretan pohon buah plum di Donnybrook. Ini perjalanan pulang ke Busselton (Foto by Nila N. H. Rogers 2018).
IMG_8774
Fruit tree Donnybrook (Foto by Nila N. H. Rogers 2016).
IMG_8772
Pepohonan plum yang sedang berbunga di Donnybrook (Foto by Nila N. H. Rogers 2016).

Yang dipanggil lelap tertidur di kursi penumpang, saat saya mengantar dia ke Donnybrook untuk melihat taman bermain besar yang gratisan itu. Warna warni bunga liar dikanan kiri hutan lindung, lolos sudah dari mata si Husni.

Donnybrook
Kurt dan anak-anak di salah satu sudut Apple Fun Park Donnybrook, taman bermain terbesar se-Australia (masuknya gratis). Foto by Nila N. H. Rogers 2017.

 

Di beberapa perjalanan kami, saya sering memergoki Husni terkantuk-kantuk dan kemudian lelap di kursi penumpang.

Terakhir, saat Husni akan bertolak ke Perth diantarkan oleh Kurt, disaat saya sedang bersiap mengantarkan anak-anak les berenang, Husni kembali tertidur di sofa. Padahal Jam baru menunjukkan pukul 9.30 pagi.

“Jangan lupa nanti Husni dibangunkan loh!” kata saya pada Kurt yang sedang berada di bawah bak cuci piring, mereparasi pipa yang bocor.

Kurt tidak menjawab, tapi deru peralatannya membahana : Drrrrrrrrr… Drrrrrrrr… Drrrrrrrr… Bising sekali!

Tapi Ya Tuhan… Husni masih saja terlelap.

Saya mulai kehabisan waktu. Daripada menunggu si Husni bangun, saya memutuskan untuk pergi ke kolam renang dan membiarkan Husni tetap tertidur.

Kakkkkk, aku durung pamitannnn..” jeritnya lewat pesan di WhatsApp.


Husni sudah kembali ke Gresik dengan selamat. Liburan dan pengalaman barunya yang cuma sekejap mata itu, dipastikannya sangat berkesan.

Husni belajar banyak disini. Belajar membuka saos tomat. Belajar membuat kopi dengan Coffee Machine (“wuik nduwe mini brewing rekkkk” | Dasar ndesit!). Belajar memotong roti dengan pisau elektrik (nggumun meneh). Belajar menerbangkan Drone yang aman tanpa diprotes warga. Belajar mengenal budaya Australia yang tertib dan rapi. Belajar memakai banyak baju saat kedinginan. Belajar mengenal mbak Nila-nya yang galak dan temperamental. Belajar Bahasa Inggris (mbuh kapan). Dan belajar menjadi manusia berguna 🙂

Selamat dan sukses selalu Husni.

Semoga bisa kembali ke Australia dengan petualangan yang lebih seru lagi!

Busselton, 10 Oktober 2018 Pukul 1:45 waktu Perth.