Jika sebelum-sebelumnya saya mengulik sekaligus membeberkan susah & kerasnya hidup di Australia (baca di DIY dan Jangan Manja), kali ini saya mau cerita “enaknya” hidup di sini.

Di Australia saya bisa bergaya sesuka hati saya. Mau potong rambut super pendek, pake baju tidak matching, pake sendal kegedean (sendal suami), mau pake rok yang ndilalah tembus pandang… pakai apa saja. Bebas!

Dijamin tidak ada satu suitan pun.

Tidak akan ada orang yang iseng mengomentari penampilanmu. Tidak ada orang yang melihatmu sampai mendelik-mendelik. Tidak ada orang yang melihatmu sampai kepalanya berputar ke belakang seperti film horor. Tidak ada! Bebas!

Di Gresik-Surabaya, saya yang kebetulan bersumbu pendek, sudah tidak terhitung berapa kali saya tendang atau nggampar orang gara-gara saya disuitin atau dilecehkan secara verbal. Saya marah besar kalau ada yang mengomentari cara berpakaian saya dengan nada melecehkan.

Sejak kecil, saya ya begini ini gayanya. Ibu saya selalu membabat pendek rambut saya. Karena kalau panjang, ndak cakep lagi, begitu katanya.

Sejak kecil, saya pakai celana pendek. Dan kalaupun pake rok, juga rok mini.

“Kalau roknya panjang, ndesit sih!” alasan ibu saya.

Gara-gara ini juga ibu saya kena teguran dari guru di TK dan SD.

“Bu, tolong roknya Nila dipanjangin sedikit. Kependekan itu loh Bu. Kalau membungkuk, celana dalamnya kelihatan,” rayu guru saya.

Ibu saya terpaksa menurut. Rok saya dipanjangkan sedikit, tapi masih tetap di atas lutut hahaha

SMA, begitu juga.

Sehari setelah proposal pendirian cheerleaders dari saya dan kawan-kawan ditolak oleh Kepala sekolah, besoknya ada peraturan baru bahwa murid wanita harus pakai ROK 20cm DI BAWAH LUTUT dan HARUS PAKAI KAOS KAKI (super) PANJANG.

Beres pak!

Saya, memakai kaos kaki panjang hingga menyentuh dengkul, tapi rok yang sudah dipanjangkan ibu saya, saya gulung bagian perutnya hingga roknya memendek dan berada di atas lutut lagi.

Yihaaaaaaa!

Saya pun sukses dikejar-kejar guru dan disetrap.

Ndak ngurus!

Urusan panjang pendek rok tidak ada hubungannya dengan ISI OTAK dan KEPRIBADIAN.


 

Semakin besar, gaya saya ya begitu-begitu saja. Celana jins, kaos.

Hanya saat kuliah saja, saya “khilaf” karena mulai mainan lipstik dan memanjangkan rambut. Karena saat itu, mantan pacar saya ngotot agar saya lebih feminin. Selain itu, saya juga kerja jadi SPG. Jadi ya terpaksa macak wedok sithik lah!

kuliah
Jaman Kuliah. Foto: Hendra Saputra. Lokasi: Ulen Sentalu, Jogja.
Orang tua saya sebenarnya tidak pernah memberi batasan bagaimana saya harus berpakaian, asalkan tidak nemen sarune, kata Ibu saya.

Maksudnya, seksi boleh, tapi ndak vulgar. Paham yah?

Buat saya, celana pendek, kaos kutung masak vulgar? Saya juga dada rata gini loh.

Tapi ya gara-gara sering naek sepeda motor pake celana pendek dan kaos ndak jelas, saya jadi sering bertengkar dengan orang-orang di jalan.

Suitttt Suiiitttt…

Saya langsung putar balik, mendatangi warung kopi di sekitaran Pasar Senggol, Gresik.

Sopo sing mau suit-suit? Durung tahu dijejeli helm tha lambene?” teriak saya. Mereka terdiam, senyap.

Ada yang bilang, itu salah saya, karena mengundang masalah. Harusnya saya pakai pakaian yang tertutup biar ndak digoda.

Ealaaaah! Podo ae!

Begini ya, kalau dasarnya laki-laki itu memang tidak bisa menahan kebodohan dan nafsunya, mau ditutupi seperti apapun, ya tetap saja keluar bodohnya mereka! Tidak percaya?

Begini, sekitar dua bulanan pasca operasi cesar anak pertama, saya terpaksa keluar naik motor siang hari karena harus ke TIKI. Ada paketan yang harus saya kirim. Karena panas menyengat, saya pakai jaket, celana jins panjang dan helm TEROPONG. Ndromos rasane!

Saat urusan kiriman paket selesai, saya berjalan santai menuju sepeda. Kemudian, ada sepeda motor lewat, dua laki-laki berboncengan. Pelan saja mereka lewat, eh, yang di bonceng, tiba-tiba menoleh ke arah saya, senyum-senyum dan memainkan jari-jarinya. Dia bikin lingkaran, terus jari yang lain di tarik keluar masuk.

Saya mengernyitkan dahi. “Opo maksud e wong iki? Sarap!”

Saya cuek saja dan naik ke atas motor, siap-siap pulang (saat itu saya masih tinggal di GKB). Eh, kok ya ketemu lagi di perempatan Giri. Dan masih tetap saja laki-laki absurd ini memainkan jari-jarinya ke arah saya. Dan ini terusssss dilakukan sampai saya di GKB.

Habis kesabaran, sepeda saya kebut. Itu motor saya pepet, dan saya tendangi bagian belakang motornya.

Jancuk! Mudun koen! Mudun!” saya murka luar biasa sambil terus menendangi motor yang mulai oleng itu.

Si pengendara motor kebingungan karena tidak sadar kawan di belakangnya bikin ulah.

“Ampun mbak.. ampun.. ampun..” laki-laki absurd itu menyembah-nyembah. Kawan di depannya ngomel panjang pendek.

Saya menepikan kendaraan, mengatur nafas, sambil ditonton ratusan pasang mata (GKB mana pernah sepi sih?) Tak lama, jahitan bekas operasi cesar, mulai senat-senut. Duh!

Jadi, masih ngotot bahwa wanita dengan pakaian tertutup akan terbebas dari laki-laki otak kancut?!?!


Saat kali pertama di Australia, saya bebas! Baju semini apapun bisa saya pakai dengan santai. Rambut tidak sisiran, tidak mandi dan kadang juga tidak pake beha, aman!

Gaya saya ini masih relatif normal loh. Ada banyak manusia di sekeliling saya dengan gaya anehnya.

Di sini, trennya: gadis kecil-remaja, rambutnya panjang. Semakin dewasa ke tua, rambut akan di pendekkan. Dan semakin tua, gayanya juga gaya suka-suka.

Awalnya dulu saya terkaget-kaget melihat nenek tua yang rambutnya hampir pelontos tapi di cat warna terang. Ada yang hijau, biru, ungu dan kadang beberapa warna sekaligus. Suka-suka mereka pokoknya.

Kawan baik saya, usianya hampir 70. Rambutnya trondol habis dan di cat ungu. Semuanya serba ungu. Make up, anting, baju, ungu semua. Tapi ya jadi kelihatan cantik tuh. Coba saya? Pasti kayak terong!

Wanita berpostur besar juga sama, mau ada selulitnya kek, perut menggelambir kek, bebas berpakaian apa saja.

Saat musim panas, wanita berpostur besar, bisa dengan santai mengenakan pakaian musim panas yang mini dan terbuka disana sini. Mereka tidak malu dan kikuk, karena mereka tahu bahwa kebebasan pribadi dijunjung tinggi disini.

Tapi gaya suka-suka ini ada juga yang bikin saya miris. khususnya yang remaja. Saya dan suami sudah termasuk manusia  yang moderatlah. Kami berdua menerima segala model pakaian dan cara dandan. Tapi yang ini kok keterlaluan.

Suatu kali, saya dan suami mendatangi festival musik pinggir pantai di Scarborough, Perth. Ini acaranya anak muda. Hampir 90% pengunjungnya anak muda (18th ke atas). Saat sedang asyik menikmati hentakan musik dari DJ, pandangan mata saya tertumbuk pada beberapa gadis remaja yang berdiri dan berjoget tidak jauh dari kami duduk.

“Eh, coba lihat itu deh. Mungkin mataku yang salah. Tapi kok sepertinya mereka tidak pakai celana dalam ya?” tanya saya pada suami.

Dengan malu-malu dan di balik kacamata hitamnya, suami saya melihat sekilas sebelum akhirnya memalingkan muka.

“Shit, iya benar! Tidak ada yang pakai celana dalam semuanya itu! Bikin malu! Tidak punya adat!” suami saya uring-uringan.

“Halaaaahhhh,  tapi seneng kan liatnyaaaa?” goda saya.

“Tidak! Itu memalukan! Saya kasihan sama orang tuanya. Pasti malu mereka punya anak gadis pake baju seperti itu!” tukasnya.

Bajunya biasa saja. Bahan kain yang lembut dengan model celana pendek lebar dan mengembang kalau tertiup angin. Nah, karena lebar iniloh! Jadi kelihatan kalau di dalamnya “polos”. Maaf, untuk yang ini saya tidak bisa kasih ilustrasi foto! Saru!


 

Masalah gaya, di dunia barat memang dijunjung tinggi kebebasannya. Suka-suka kamulah!

Tapi kenapa saat ada wanita yang memakai burqa, banyak yang tidak suka, sinis, kejang-kejang?

Bagi saya, mode pakaian dan cara berpakaian apapun harusnya bebas! Tidak terikat SARA. Burqa adalah cara wanita menihilkan identitas mereka (istilah ini saya pinjam dari Agustinus Wibowo). Sayangnya, riset saya tentang burqa minim sekali. Semoga nanti saya diberi kesempatan untuk menggali lebih dalam mengenai Burqa yang bikin banyak orang gagal paham.

Orang Indonesia, gagal paham lihat dengkul dan lengan.

Orang barat, gagal mikir lihat orang menihilkan identitas.

Harusnya semua gaya ya suka-suka!

Busselton, 170217 Jam 21:56 waktu Perth.